Senin, 22 Oktober 2007

JANGAN GUNAKAN FORMALIN UNTUK PENGAWETAN PANGAN

k-04

JANGAN GUNAKAN FORMALIN UNTUK PENGAWETAN PANGAN

Oleh:Heni XC

Penggunaan bahan pengawetan yang tidak disetujui oleh Menteri Kesehatan untuk mengawetkan produk pangan masih saja digunakan oleh para produsen. Salah satunya adalah penggunaan formalin untuk memperpanjang umur simpan tahu dan bahkan disinyalir pula bahwa formalin dipergunakan untuk mengawetkan daging ayam segar oleh para pedagang.

Formalin memang terbukti mampu memperpanjang umur simpan tahu, seperti dibuktikan oleh hasil penelitian Winarno tahun 1978 berikut ini: perendaman dalam larutan formalin 2% selama 3 menit saja, terbukti mampu memperpanjang umur simpan tahu sampai 4 – 5 hari, sedangkan tahu yang direndam air hanya mampu bertahan 1 – 2 hari. Yang menjadi masalah formalin bukan merupakan BTP – Bahan Tambahan Pangan (Food additive).

Formalin adalah larutan 30 s/d 40% formaldehid dalam air. Sebenarnya formalin lebih sesuai dipergunakan sebagai antiseptik untuk membunuh bakteri dan kapang, terutama untuk menyucikan peralatan kedokteran, dan mengawetkan sepsimen biologi, termasuk mayat manusia. Berdasarkan berbagai penelitian disimpulkan formalin tergolong sebagai karsinogen, yaitu senyawa yang dapat menyebabkan timbulnya kanker. Padahal kesepakatan umum di kalangan para ahli pangan bahwa semua bahan yang terbukti bersifat karsinogenik tidak boleh dipergunakan dalam makanan maupun minuman. Di Amerika Serikat prinsip ini dikenal dengan nama Delaney Clause. Sebenarnya beberapa alternatif untuk pengawetan tahu telah dikembangkan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh IPB (Institut Pertanian Bogor) direkomendasikan bahwa untuk mendapatkan umur simpan 5 hari atau lebih tahu dapat diawetkan dengan pengasapan (24 jam), atau direndam dalam larutan garam 4% yang diasamkan dengan asam cuka. (BW).


MENGAWETKAN DAGING TANPA FORMALIN

Proses pengasinan

Pengasinan (curing) daging merupakan salah satu cara pengawetan daging dengan melakukan pemberian bahan-bahan preservatif seperti garam (NaCl), Na-nitrat, Na-nitrit, dan bahan lain yang dapat menambah cita rasa. Curing memiliki tiga tujuan utama, yaitu pengawetan (preservation), rasa (flavor) dan warna (color). Curing daging membutuhkan garam yang merupakan bahan pengawet pangan pertama digunakan manusia. Garam telah menjadi bahan penting dalam pengawetan produk-produk peternakan dan perikanan. Pada tingkat tertentu, garam mencegah pertumbuhan beberapa tipe bakteri yang bertanggung jawab dalam pembusukan daging. Garam dapat mencegah pertumbuhan bakteri, baik yang disebabkan oleh efek penghambat langsung dari bakteri maupun oleh efek pengeringan yang dimiliki bakteri dalam daging.

Nitrit dan nitrat merupakan bahan tambahan yang dapat memperbaiki warna dan rasa daging pada proses curing. Selain itu, nitrit pun dapat mencegah pertumbuhan clostridium botulinum yang bersifat racun bila dikonsumsi manusia sehingga menyebabkan botulisme. Nitrit dapat berubah menjadi nitrit oksida yang akan bergabung dengan myoglobin (Mb). Myoglobin merupakan pigmen yang menentukan warna merah alami pada daging yang tidak diasin. Setelah itu nitrit oksida dan myoglobin berubah menjadi nitrit oksida myoglobin (NOMb). Nitrit yang digunakan dalam pengasinan daging ini telah diproduksi secara komersial dengan nama sodium nitrite.

Di Amerika Serikat, penggunaan sodium nitrite dalam proses curing daging telah diatur secara legal oleh sebuah regulasi yang dikembangkan Departemen Pertanian AS (USDA). Pembatasan dalam penggunaan nitrit sangat diperlukan karena nitrit akan bersifat racun bila dikonsumsi dalam dosis yang berlebihan.


Prosedur

Proses curing membutuhkan garam dalam konsentrasi tertentu untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Jumlah garam yang ditambahkan dalam daging sangat bergantung pada kondisi lingkungan seperti temperatur dan tingkat keasaman (pH). Kondisi tersebut akan mempengaruhi keefektifan fungsi garam sehingga tidak ada batasan pasti yang menentukan konsentrasi garam dalam proses curing. Prosedur yang digunakan dalam proses curing daging terdiri dari 1) Metode pengasinan kering, dilakukan proses yang bersifat tradisional karena merupakan metode pengasinan yang telah berusia tua. 2) Metode pengasinan basah lazim dinamakan dengan pengasinan tangki. Metode ini memiliki kemudahan dalam pengawasan dan mempunyai risiko kerusakan yang lebih kecil. Angka kehilangan berat akan lebih sedikit dalam pengasinan basah ini.

Daging yang telah diasinkan kemudian dapat disimpan selama beberapa hari dalam suhu rendah untuk memberi waktu kepada bahan pengasin agar terdistribusi sempurna. Bahan-bahan pengasinan dapat dimasukkan ke dalam daging dengan tiga alternatif lain, yaitu dengan suntikan jarum, suntikan arteri, dan pompa setik. Di negara-negara maju, proses pengasinan sangat mudah dilakukan oleh siapa saja karena semua bahan, alat dan tempat untuk proses pengasinan tersebut dapat diperoleh dalam satu produk yang terjual secara komersial.


DIPERLUKAN ALTERNATIF PENGAWETAN MAKANAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BERBAGAI USAHA KECIL

BANDUNG (PR)

Berbagai alternatif inovasi cara pengawetan produk makanan mendesak diperlukan di Jabar, sebagai langkah melestarikan berbagai usaha kecil makanan yang sangat bervariasi di daerahnya. Langkah tersebut, erat kaitannya melangsungkan mata pencaharian masyarakat yang banyak berusaha dari usaha produk makanan. Demikian dikatakan Ketua Jurusan Teknologi Pangan Unpas Bandung, Asep Dedi, di Bandung, Minggu (19/3).

Diakuinya, dalam kondisi tertentu, memang ada kondisi “terpaksa” dalam penggunaan sejumlah bahan pengawet. Namun, ini hanya dilakukan sesuai takaran aman, jika sejauh ini belum ada bahan pengawet pengganti lain. Asep Dedi menilai, jika dilihat dari perkembangan kondisi sekarang, berbagai inovasi pembuatan bahan pengawet yang lebih aman bagi masyarakat, sebenarnya dapat dimunculkan. Ini terutama berasal dari bahan-bahan berbasis komoditi agro, yang selama ini kurang dapat dimunculkan karena tertutup gencarnya promosi produk kimia.

Jaminan Keamanan Makanan

Jaminan Keamanan Makanan



Formalin

Teknologi semakin lama semakin maju, ditambah pula dengan sistem penyajian makanan yang cepat saji, instant, dan praktis. Manusia cenderung lebih mementingkan kebutuhan hidupnya dengan cara instant, tanpa berusaha. Sistem penyajian makanan yang instant tersebut tentu menggunakan bahan pengawet yaitu salah satunya penggunaan Formalin. Akhir-akhir ini terdengar isu adanya formalin pada makanan-makanan yang di jual. Formalin mulai menyebar dan diperdagangkan masyarakat luas, terutama pedagang yang memanfaatkannya untuk menjual makanan di sekolah-sekolahan sebagai jajanan bagi anak-anak sekolah. Makanan yang tidak higienis ini sangat diminati anak-anak, karena disamping harganya murah, enak, praktis, dan mudah dalam pembuatannya.

Penggunaan formalin ini harus segera dihentikan, karena berakibat fatal, apalagi bagi anak-anak sekolah yang suka mengkonsumsi jajanan yang berlebihan, tanpa harus menimbang dari segi gizinya dan produk makanan yang tidak jelas pengolahannya. Anak-anak sekolah sudah wajar mengkonsumsi makanan di pinggir jalan, maklum karena mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa akibat dari bahan pengawet, yang mereka pikirkan hanyalah makanan yang murah, dan enak.

Formalin diperdagangkan dengan nama berbeda-beda. Antara lain : Formol, Morbicid, Methanal, Formic Aldehyde, Methyl Oxide, Oxomethane, Formoform, Formalith, Karsan, Trioxane, dan lain-lain. Maraknya isu formalin yang membuat para pedangang kecil maupun padagang besar jatuh rugi dan tidak sedikit pedagang yang terpaksa gulung tikar. Pengawet-pengawet makanan alternatif yang diklaim aman pun mulai bermunculan dan “Naik Daun” ,sehingga seakan akan semua orang terlena dengan formalin. Entah sudah berapa banyak formalin (bahan pengawet mayat formalin) dikonsumsi manusia yang sudah terakumulasi dalam tubuh dan sebagai bibit pencetus berbagai macam penyakit seperti infeksi ginjal, kanker, kecerdasan anak dan penyakit degeneratif lainnya.

Telah banyak peneliti di Indonesia yang menemukan bahan pengawet formalin yang terkandung dalam makanan. Menurut mereka formalin dapat memberikan rasa yang “lebih segar” pada makanan yang diawetkan. Tetapi Badan POM yang bertugas mengawasi makanan dan obat-obatan tidak menjalankan tugasnya dengan baik, karena kurang memperhatikan dan kurang peka akan penggunaan formalin di masyarakat terutama di lingkungan anak-anak sekolah.

Sebagian besar makanan yang di jual di sekitar kita, menggunakan bahan pengawet karena faktor kesengajaan. Untuk dapat menghindari bahaya tersebut, kita dapat mengenali ciri-ciri makanan yang mengandung bahan pengawet :

Misalkan :

- Jajanan di pinggir jalan yang murah, makanan yang tidak jelas, dan tidak higienis.

- Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet beberapa hari, dan tidak mudah busuk .

- Mie basah yang awet beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin.

- Ayam potong yang berwarna putih bersih, awet, dan tidak mudah busuk

- Ikan basah yang berwarna putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampai beberapa hari dan tidak cepat busuk.

- Makanan Bakso yang biasa di konsumsi, teksturnya lebih keras, rasanya kenyal, agak berbau zat kimia, tahan lama dan tidak mudah basi.



Penggunaan Formalin

Secara umum, formalin digunakan untuk :

  • Pembalsam atau pengawet mayat,

  • Pengawetan hewan-hewan, baik yang dilakukan para pemburu maupun para siswa dan mahasiswa di laboratorium,

  • Sebagai desinfektan (pembunuh kuman) sehingga dimanfaatkan sebagai pencampur untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian,

  • Pembasmi lalat dan sejumlah serangga,

  • Sebagai bahan pembuatan zat pewarna, cermin kaca, dan bahan peledak,

  • Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas,

  • Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea,

  • Bahan pengawet produk kecantikan dan pengeras kuku,

  • Pencegah korosi untuk sumur minyak,

  • Bahan untuk pembuatan produk parfum,

  • Bahan perekat untuk produk kayu lapis (playwood).


Pengaruh Terhadap Kesehatan

Akibat formalin akan dirasakan dalam waktu yang cukup lama, karena efeknya lambat laun akan semakin terlihat. Akan tetapi baiknya mencegahnya sebelum terlambat. Pengaruh yang akan terjadi adalah jika formalin dikonsumsi dalam jumlah besar, akan menimbulkan konvulsi, haematuria (Urin Berdarah), dan haematomesis (Muntah Darah). Jantung pun juga akan mengalami gangguan, kerusakan hati, saraf, kulit membiru, hilangnya pendengaran, kejang-kejang, hingga kematian.


Untuk itu waspadailah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan diri, agar kesehatan tetap terjaga dan terhindar dari berbagai penyakit. Kurangi resiko makanan yang praktis dan instant, mulailah hidup sehat dan higienis.

Pengawet Alami, Pembunuh Mutakhir Dari Alam

k-02

Pengawet Alami, Pembunuh Mutakhir Dari Alam


Dewasa ini, dunia banyak diguncangkan dengan bahan-bahan pengawet buatan yang sering digunakan oleh pabrikan-pabrikan makanan. Pabrikan makanan tersebut menggunakan sebuah pengawet buatan seperti Boraks, Formalin, Natrium Benzoat,dsb.

Bahan-bahan berbahaya tersebut digunakan dengan maksud meminimalisir pengeluaran dan memaksimalkan pemasukan. Orang menjadi takut untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung bahan-bahan diatas. Setelah berkurangnya konsumen, perusahaan pengolahan makanan kemudian beralih kepada segala sesuatu yang bersifat alami(natural). Cara pengolahan, bahan baku,hingga bahan pengawetan berasal dari alam hingga suatu produk tersebut berlisensikan alami.

Tetapi sebenarnya, bahan-bahan alami tersebut tidak selamanya aman. Bahkan beberapa jenis makanan seperti dalam jamur pangan, mengandung suatu senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan kangker. Bukan hanya jamur pangan saja, bahkan makanan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesiapun mengandung suatu zat yang tidak kalah bahayanya. Misal: pada seledri terdapat psoralens, daun teh mengandung phyrolizidin alkaloids, glikoalkaloid pada kentang, glukalsinolat yang dapat ditemukan pada sayuran, dan racun biru atau HCN yang terdapat dalan tumbuhan singkong. Semua bahan pengawet makanan tersebut berpotensi membunuh manusia.

Dengan begini, telah terbukti bahwa masakan alami pun tidak luput dari resiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, Bahan makanan di bumi pasti memiliki resiko (zero risk). Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mencegah pemasukan racun dari makanan? Jawabannya adalah dengan selektif memilih bahan pengawet makanan yang aman bagi tubuh.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih dan menggunakan bahan pengawet adalah: pertama, kita dapat melihat dari sifat kimia dan antimikrobia dari bahan pengawet tersebut. kedua, kita dapat mencermati sifat dan komposisi makanan yang akan diawetkan. ketiga, kita harus memperhatikan jenis dan level mikroorganisme yang terdapat dalam makanan. Dan yang pasti setiap bahan pengawet yang kita gunakan harus aman dan bebas dari senyawa yang merugikan tubuh.

Bahan pengawet pada saat ini ada yang sama sekali tidak boleh digunakan dan ada pula yang boleh digunakan asalkan sesuai dengan takaran dan ukuran tertentu. Berikut adalah bahan pengawet makanan yang sering digunakan. Pertama, asam-asam organik yang ditemukan dalam makanan. kedua, benzoat(bentuk garam kalsium, dan sodium) digunakan untuk mencegah ragi dan bakteri pada makanan yang berupa selai, minuman, pikel, kecap, dan margarin. Ketiga, Asam asorbat dan garam larutannya telah digunakan untuk pengawetan makanan sejak dahulu. Berbagai jenis bahan makanan tersebut dapat digunakan dan dipilih dalam proses pengawetan makanan.

Untuk lebih jelas dalam pencegahan keracunan dalam masyarakat ataupun keluarga kita dapat melihat dari peraturan menteri kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/1998, tercantum batas maksimum penggunaan berbagai bahan pengawet yang digunakan dalam proses produksi berbagai jenis makanan. Oleh karena itu kita harus bijaksana dalam penggunaan bahan pengawet makanan. jika sebagai produsen, kita jangan menggunakan bahan pengawet yang dilarang ataupun dalam jumlah yang berlebihan. Sedangkan sebagai konsumen kita juga harus bijak dalam memilih makanan, bukan hanya berdasarkan rasa tetapi juga kebersihan dan cara pengolahan makanan. penggunaan bahan pengawet pada dasarnya memang harus terus menerus diawasi karena pemakaian yang berubah-ubah dapat menimbulkan perubahan pada bahan pengawet sehingga menjadi berbahaya.



ARYA MAHENDRA

SMU Kr.Widya Wacana



Kaedah Meradiasi Makanan Menjelaskan kesehatan?

No.k-01

Kaedah Meradiasi Makanan Menjelaskan kesehatan?

Oleh: Damaris SMA Widya Wacana

Meradiasi makanan kini menjadi satu cara untuk mengawet makanan.dengan cara meletakan makanan pada pancaran gamma.Tujuannya ialah untuk melanjutkan tempo ketahanan dengan membunuh serangga, bakteri dan microorganisme lain.


Dos yang dimaksut disini amat tinggi yaitu bersamaan dengan 300 juta X-ray.

Dos bergantung pada jenis makanan:

  • Buahan dan sayuran boleh dibedakan kepada 100,000 rad.

  • Daging ayam itik sehingga 300,000 rad (atau bersamaan 30 juta X-ray dada).

  • Rempah sehingga 3,000,000 rat (atau 300 juta X-ray)


Adakah berkesan untuk nmengawet makanan?


Pihak pencadang mendakwa proses itu lebih sehat karena penyinaran menjadikan makanan tahan lebih lama tanpa memerlukan pengawet kimia, racun mahluk perusak, pengasapan dan proses-proses lain yang diketahui membahayakan.


Bergantung pada dos, sinaran itu boleh membunuh bakteri, virus, cendawan dan kulat serta organisme kecil lain yang merusak makanan.semua makanan akan terjangkit bakteri, kecuali makanan yang dibungkus dalam bungkusan yang rapat kemudian disejukkan.


Masalah lainnya ialah sejumlah besar bakteri atau virus dibunuh, yang selamat akan bebas membiak dengan cepat, sebab ia tidak dihalangi oleh pesaing.Didalam makanan yang tercangkit bakteri akan memiliki bau, rasa, tekstur yang tidak menarik.




Adakah makanan radiasi berkhasiat?


Proses radiasi memusnahkan kebanyakan dilakukan pada vitamin, terutama vitamin A,C, E, dan tiamina.Pada jenis makanan dan dos radiasi akan kehilangan vitamin sampai 30 % lebih.biasanya terjadi pada jus buah.makanan yang mengalami radiasi dalam tempo panjang akan kehilangan vitamin lebih banyak.


Adakan makanan radiasi selamat?


Melalui kaedah radiasi, makanan akan mengalami perubahan kimia.Ia boleh merusak sel-sel tubuh dan menggalakan kanser.selain itu juga dapa menimbulkan penuaan pada kulit dan tubuh.Radikal bebas yang bergabung dengan zat kimia lain dapat menimbulkan racun yang berbahaya.Contohnya di india, ada kanak-kanak yang kekurangan zat, dan kemudian diberi makanan gandum yang kemudianmenghasilkan pengkajian kromosom anak yang menyebabkan leukimia.


Kenapa pengeluar gemarkannya?


Makanan radiasi yang masih kelihatan segar walaupun sudah disimpan beberapa bulan, tapi kita tidak dapat membedakan mana makanan yang masih segar atau sudah rusak.makanya itu para konsumem yang mengonsumsi makanan tersebut mudah diperdaya oleh penjual.Contohnya britain dulu pada tahun 1986 pernah membawa masuk udang yang sudah dibekukan tetapi ditolak sebab udang tersebut mengandung banyak bakteri.


Bagaimana hendak tahu makanan diradiasi?


Anda tidak akan tahu kalau makanan tersebut diradiasi, sebab kebanyakan para pengguna hanya bergantung pada produsen tidak pernah meneliti terlebih dahulu makanan yang akan dikonsumsi melalui ciri-ciri yang ada.Produsen tidak akan mencetak kata “RADIASI” pada label, sebab jika terjadi seperti itu pasti para pengguna tidak akan menggukannya lagi.


RENGAWETAN MAKANAN DENGAN IRADIASI


Dalam teknik ini kita dapat menggunakan gelombang elektromagnetik yang bertujuan mengurangi kerusakan dan pembusukan, serta membasmi mikroorganisme yang dapoat menimbulkan penyakit.Dan juga harus memperhatikan batasa-batasan dalam melakukan tehnik ini.

Pada saat penelitian akan dilakukan pada makanan yang siap saji yang bertujuanuntuk menemukan perbedaan proses iradiasi terhadap makanan yang siap saji dan makanan yang mengalami proses iradiasi sejak masih mentah.

Dalam pengawetan ini kita harus memperhatikan dosis, dosis harus disesuaikan pada jenis makanan yang digunakan.Dalam menentukan dosis harus pas, tidak bolel kurang atau tidak bokleh lebih.

Dalam pengukuran dosis harus menggunakan sistem dosimetri.Dosimetri merupakan metode pengukuran metode serap (absorsi).


ASPEK GIZI


Pengawetan makanan dengan menggunakan iradiasi sudah terjamin jika tidak melebihi dosis.Dilihat dari aspekgizi, makanan yang diiradiasi dikhawatirkan akan mengalami perubahan zat kimia.Jika dilihat dari aspek kimia, pada pengawetan harus diperhatikansupaya tidak terjadi makro nutrisi.Selain itu iradiasi tidak dapat dikenali debngan cara pengelihatan, penciuman, perabaan.Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan cara menyertakan label atau logo.






Minggu, 21 Oktober 2007

Balita Kita, Masa Depan Kita

Balita Kita, Masa Depan Kita

oleh: RIESTA FINDA FIRDYATAMA

Problema tentang gizi balita memang tidak bisa terlepas dari masalah pangan. Jika dalam suatu negara terdapat banyak sekali kasus kurang gizi, busung lapar, terutama pada balitanya, dapat dikatakan negara tersebut cukup jauh dari kemakmuran. Mengapa demikian? Yah! Jika dalam suatu negara, pemenuhan gizi terhadap balita saja masih sedemikian memprihatinkan, ah, bukan hanya peme nuhan terhadap gizi saja yang kondisinya masih sedemikian memprihatinkan, tetapi juga keadaan pangannya, Terbukti dengan adanya kasus-kasus busung lapar yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Kasus busung lapar yang menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun di Indonesia mencapai angka delapan persen. Sesuai dengan proyeksi penduduk Indonesia yang disusun Badan Pusat Statistik, tahun 2005 jumlah anak usia 0-4 tahun di Indonesia mencapai 20,87 juta. Itu berarti ada sekitar 1,67 juta anak balita yang menderita busung lapar. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), anak balita yang menderita busung lapar mencapai 10 persen dari total anak balita. Di NTB ada sekitar 498.000 anak balita. Dengan demikian, sekitar 49.000 anak balita di antaranya menderita gizi buruk atau bahkan busung lapar. (Kompas,Sabtu 28 Mei 2005). Dari sekelumit kasus ini saja dapat kita lihat bahwa keadaan pangan dan juga gizi balita memang sangat memprihatinkan, kalau keadaan pangan dan gizi balita saja sudah sedemikian ini, bagaimana dengan bidang yang lain? tentunya akan jauh lebih memprihatinkan bukan? Bagaimana kita bisa mengejar ketertinggalan, menciptakan inovasi teknologi-teknologi yang mutakir kalau problema tentang balita seperti ini saja masih selalu membelenggu Indonesia? Dan lagi balita juga individu-individu yang kelak akan menjadi penerus bangsa, tetapi di masa pertumbuhannya hanya berlumuran dan bermanikan kekurangan gizi bahkan busung lapar? Bagaimana kelanjutannya?

Indonesia, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, subur makmur, kaya raya, tapi jika kita melihat realita tentang keadaan masyarakatnya, terutama keadaan balitanya? Bisa dikatakan kita ini layaknya tikus-tikus bodoh yang mati kelaparan di lumbung padi. Betapa tidak? Tahun 1989, dengan jumlah penduduk 177.614.965 jiwa, terdapat 1.342.796 balita menderita gizi buruk. Tahun 2002, dari jumlah penduduk 208.749.460 jiwa, kasus gizi buruk pada balita menimpa 1.469.596 anak. (Kompas, Kamis 5 Februari 2004) Sungguh ironi! Di negeri yang sebegini kaya akan sumber Daya Alam,negeri agraris, negeri yang berkali-kali mengalami surplus beras, tapi mengapa kasus-kasus kekurangan gizi dan busung lapar pada balita masih begitu banyak terjadi?

Sedangkan dampak dari gizi buruk ini sendiri adalah indeks pembangunan manusia (HDI) yang rendah. Tahun 2003, misalnya, HDI Indonesia berada pada peringkat ke-112 dari 175 negara. Selain itu, dua balita meninggal setiap menit, 9,2 juta anak tidak sekolah atau putus sekolah, serta tingkat pendidikan masyarakat rendah. Saat ini 30 persen dari penduduk di 177 kabupaten/ kota tidak pernah atau putus sekolah. (Kompas, Kamis 5 Februari 2004). Sungguh memprihatinkan bukan?

Melihat kondisi yang sedemikin memprihatinkan, akankah kita tega membiarkan kondisi ini terus berlanjut? Atau bahkan makin berkembang? Tidak! Kita harus lakukan sesuatu. Bagaimanapun juga masalah balita adalah masalah negara. Balita adalah bibit-bibit penerus bangsa. Para intelek-intelek, tokoh masyarakat, atau presiden sekalipun dulunya juga mengalami balita bukan?

Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan menemukan sebuah konsep bagaimana menanggulangi masalah kekurangan gizi pada anak balita. Peneliti Puslitbang Gizi Bogor, Trintrin Tjukani Mkes menjelaskan, ada enam tahap dalam konsep yang diujicobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten Pandeglang Banten.
Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan. Ketiga, penimbangan balita. Keempat, penyuluhan gizi. Kelima, pemberian makanan tambahan. Dan keenam, penggalangan dana.

Sedangkan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi masalah kurang gizi ini sendiri antara lain :

1. Penjaringankasus balita gizi buruk
2. Pelayanan balita gizi buruk di puskesmas
3. Pelacakan balita gizi buruk dengan cara investigasi
4. Pelayanan balita gizi buruk di rumah tangga
5. Koordinasi Lintas Sektor dalam upaya penanggulangan balita gizi buruk

Untuk penjaringan kasus gizi buruk sendiri, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Antara lain

1) Mendatangi Posyandu atau rumah balita yang diduga menderita gizi buruk
2) Menyiapkan atau menggantungkan dacin pada tempat yang aman
3) Menanyakan tanggal / kelahiran anak
4) Menimbang balita
5) Mencatat hasil penimbangan
6) Menilai status gizi balita dengan indeks BB/U standart WHO-NCHS
7) Mencatat nama balita menderita gizi buruk
8) Membuat laporan KLB ke DKK. (www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1001578227,81523, - 20k)

Gizi buruk

Busung lapar

Kematian

Keterpurukan

Masa depan bangsa buram

Demikian tadi adalah hal-hal yang dapat dilakukan sebagai upaya penanggulangan terhadap kasus gizi buruk, utamanya gizi buruk terhadap balita. Mari kita semua bersama-sama berupaya untuk memberantas gizi buruk yang menimpa Indonesia. Masa depan Indonesia, adalah masa depan kita semua. Generasi kita, adalah masa depan kita. Ciptakan generasi yang berbobot untuk mewujudkan Indonesia yang gemilang di masa mendatang! Salah satunya dengan, berantas gizi buruk dan busung lapar yang menimpa balita mulai dari sekarang!!

balita




Mengapa harus Impor Pangan?

Mengapa harus Impor Pangan?

Oleh: Nanik Maryani*)

SMK Negeri 1 Karanganyar


Indonesia bukanlah negara yang miskin akan sumber daya baik itu alam maupun manusia. Zamrud khatulistiwa, sebuah julukan kebanggaan yang kini tinggal kenangan. Tanah yang subur dan hasil tambang yang melimpah membuat iri bangsa yang ada di dunia. Terbukti dengan banyaknya negara yang menjajah Indonesia. Tetapi, mengapa harus impor pangan?

Tanpa disadari selama ini bangsa Indonesia telah mengabaikan sumber pangan lokal. Serbuan bahan pangan impor dan kebijakan impor yang dilakukan pemerintah terhadap bahan pangan semakin memperparah kondisi ini. Bayangkan setiap tahun Indonesia harus mengimpor kedelai sebesar 45%, jagung 10% (1,2 juta ton), kacang tanah 15%, garam 50%, susu 70%, gula 30%, dan daging sapi sebesar 25% dari kebutuhan nasional. (Beritabumi, Jumat 18 Oktober 2007)

“Ini gambaran suatu bangsa yang semangat kemandiriannya menurun, sementara semangat ketergantungannya semakin meningkat”, ungkap Siswono Yudhohusodo mantan ketua HKTI.

Permasalahan pangan sepertinya tidak pernah lepas dari bangsa Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 210 juta jiwa. Ketergantungan terhadap bahan pangan-beras sebagai makanan pokok merupakan hal yang memprihatinkan. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan rapuhnya ketahanan pangan nasional. Apalagi beberapa tahun terakhir ini terjadi defisit yang terpaksa harus ditanggulangi dengan impor. Tahun 2001 impor beras tercatat sebesar 1,35 juta ton atau setara dengan US$ 319 juta. Angka ini setiap tahunnya meningkat. Tahun 2005, prediksi impor beras naik lebih dari tiga kali lipat dibanding tahun 2000, yaitu 4,5 juta ton atau setara dengan US$ 940 juta.

Jumlah impor beras yang luar biasa besar menjadi beban berat di tengah krisis yang melanda bangsa kita. Dengan kegiatan impor tersebut pada dasarnya Indonesia justru menghidupkan roda ekonomi pemasok. Sungguh ironi, sebab negara yang memiliki 40 juta penganggur dan 37,17 juta rakyat miskin ini, seharusnya membelanjakan uangnya untuk kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu.

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki berbagai macam sumber pangan yang dapat dimanfaatkan. Kekayaan sumber pangan tersebut meliputi 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak atau minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, dan 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan.

Diantara jenis tanaman yang memiliki kandungan gizi setara dengan beras, misalnya garut (Maranta arrundinaceae) dan ubi kayu (Manihot esculanta). Sehingga tanaman ini potensial untuk menstubtitusi beras.

Sejak tahun 1873 telah dikenal pola tumpang sari sebagai alternatif peningkatan produksi pertanian. Produktifitas tanaman pangan dengan pola tumpang sari tersebut cukup tinggi, misalnya untuk ubi kayu 30 s/d 60 ton per ha, ganyong 30 ton per ha, garut 40 ton per ha (bandingkan dengan beras yang hanya 4 s/d 8 ton per ha). Sementara negara kita potensial untuk ditanami pangan secara tumpang sari sebab memiliki lahan yang luas.

Jika 10% saja dari luas lahan tersebut ditanami garut maka akan menghasilkan 432 juta ton umbi garut per tahun, sementara jika ditanami ubi kayu, jumlah umbi yang dihasilkan lebih banyak.

Pemanfaatan sumber pangan nasional ini akan lebih optimal dengan adanya dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pusat Penelitian Bioteknologi UPI Bandung misalnya, telah mengembangkan teknologi kultur jaringan berbagai macam tanaman pangan yang biasa ditanam di Indonesia untuk menjamin ketersediaan bibit dalam jumlah tak terbatas.

Dalam hal teknik budidaya, IPB Bogor serta berbagai lembaga lainnya seperti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Brawijaya Malang serta Universitas Siliwangi Tasikmalaya, telah mengembangkan cara-cara yang menghasilkan produktifitas tinggi dari tanaman yang dibudidayakan. Pilot Plant IPB juga telah menghasilkan berbagai macam produk olahan berbasis tanaman pangan (talas, ubi kayu, garut, dsb) dalam berbagai bentuk seperti tepung, makanan ringan, makanan bayi, dan sebagainya, yang memiliki nilai jual tinggi di pasar produk pangan. (Republika Online, 17 Oktober 2007)

Dengan memanfaatkan potensi sumber pangan lokal tersebut, sebenarnya Indonesia dapat menciptakan ketahanan pangan yang tangguh, yaitu mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dari waktu ke waktu, mulai dari segi kuantitas, kualitas, dan distribusinya yang aman, merata, serta terjangkau. Bahkan dengan potensi yang demikian besar Indonesia mestinya bisa menjadi negara lumbung pangan di dunia sekaligus membantu masyarakat dunia mengatasi kekurangan pangan. Jadi, mengapa harus impor pangan?


Bahaya Mengintip dari Makanan Kaleng

Bahaya Mengintip dari Makanan Kaleng

Karya : Agung Setiawan


Sejalan dengan berubahnya gaya hidup maka juga memengaruhi pola makan pada banyak orang. Bahaya keracunan makananpun mulai mengintip di mana-mana. Baik dari makanan di warung kaki lima sampai restoran fast food, bahkan, mungkin juga dari dapur kita sendiri. Itu berarti kita harus tahu apa saja yang terkandung dalam makanan yang akan kita makan setiap harinya

Dalam kesempatan ini, saya akan memaparkan hal-hal yang harus diketahui tentang cara memilih dan mengolah makanan kaleng sehingga tidak terjadi keracuan makanan. Dan saya berharap agar tulisan ini dapat bermanfaat dan membantu sehingga hidup anda menjadi hidup yang lebih sehat.

Sekarang ini seiring dengan meningkatnya tingkat kesibukan , masyarakat kini cenderung kurang memperhatikan makanan yang mereka makan. Baik itu dari segi kebersihan, kesehatan, atau kandungan gizi yang terkandung dalam makanan, kecenderungan orang hanya memikirkan dari segi ekonomis dan kepraktisannya saja. Sehingga keracunan makanan sangat mungkin terjadi karena makanan kaleng yang dikonsumsi.

Dengan adanya permasalahan tersebut, saya ingin mencoba mengkaji masalah ini lebih mendalam yaitu tentang cara memilih dan cara konsumsi makanan kaleng dengan aman sehingga tidak terjadi keracunan makanan yang sangat merugikan konsumen .

Sampai saat ini banyak kasus keracunan makanan menimpa konsumen, karena mereka tidak tahu mengenai adanya zat-zat berbahaya yang terkandung dalam makanan yang mereka konsumsi setiap harinya. Maka pengetahuan mengenai cara pencegahan dan penanggulangan harus diketahui agar mereka tidak dibodohi terus - menerus.

Banyak pula ditemui para produsen makanan yang seringkali tidak memperhatikan kesehatan makanan produksinya dan hanya beorientasi pada laba. Hal ini jelas sangat disayangkan karena konsumen Indonesia belum terlalu kritis dan pengawasan pangan yang kurang, sehingga membuat pihak konsumen sangat dirugikan. Hal ini terbukti dengan adanya keracunan pangan dari makanan kemasan yang belakangan ini terus meningkat.

Data dari Badan POM tentang kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan dari tahun 2001-2006 menunjukkan peningkatan baik dari jumlah kejadian maupun jumlah korban yang sakit dan meninggal. Walaupun demikian, korban meninggal ditengarai mungkin hanya 1 % saja sesuai dengan perkiraan WHO.

Dan baru- baru ini banyak kasus keracunan pangan di Indonesia yang bersumber dari makanan dalam kemasan atau makanan kaleng. Hal ini diperparah dengan banyaknya penyimpangan terhadap peraturan pelabelan dan yang paling banyak ditemui adalah :

  1. Penggunaan label tidak berbahasa Indonesia dan tidak menggunakan huruf latin, terutama produk impor

  2. Label yang ditempel tidak menyatu dengan kemasan

  3. Tidak mencantumkan keterangan komposisi dan berat bersih

  4. Tidak ada kode barang MD, ML atau P-IRT dan acuan kecukupan gizi yang tidak konsisten dan tidak mencantumkan waktu kadaluarsa

  5. Tidak dicantumkannya alamat produsenatau importer bagi produknya

Makanan kaleng yang sudah mulai mengalami kerusakan dapat dilihat dari kondisi kaleng yang sudah mengalami penggembungan. Namun, ada juga yang tidak terdekteksi dari luar, karena kedua ujung kaleng datar. Kerusakan produk makanan kaleng yang perlu diwaspadai, dapat dikelompokkan sebagai berikut:

    • Flat Sour, permukaan kaleng tetap datar tapi produknya sudah bau asam yang menusuk. Ini disebabkan aktivitas spora bakteri tahan panas yang tidak terhancurkan selama proses sterilisasi.

    • Flipper, permukaan kaleng kelihatan datar, namun bila salah satu ujung kaleng ditekan, ujung lainnya akan cembung.

    • Springer, salah satu ujung kaleng sudah cembung secara permanen, sedang ujung yang lain sudah cembung. Jika ditekan akan cembung ke arah berlawanan.

    • Soft Swell, kedua ujung kaleng sudah cembung, namun belum begitu keras sehingga masih bisa ditekan sedikit ke dalam.

    • Hard Swell, kedua ujung permukaan kaleng cembung dan begitu keras sehingga tidak bisa ditekan ke dalam oleh ibu jari.

Kiat sehat mengkonsumsi makanan kaleng, paling tidak harus mempertimbangkan lima hal berikut:

  • Jangan mengkonsumsi makanan kaleng yang dicurigai sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, seperti kaleng kembung, berkarat, penyok, dan bocor.

  • Makanan dalam kaleng sebaiknya dipanaskan sampai mendidih selama 10 menit sampai 15 menit sebelum dikonsumsi.

  • Bacalah label secara seksama dan perhatikanlah tanggal kadaluwarsa. Demi keamanan, pilihlah produk yang belum melampaui tanggal kadaluwarsa.

  • Makanan kaleng yang sudah dibuka harus digunakan secepatnya karena keawetannya sudah tak sama dengan produk awalnya.

  • Bila dicurigai adanya kebusukan, makanan kaleng tersebut harus dibuang.





Biodata Penulis

Agung Setiawan lahir di Solo, Jawa Tengah tanggal 10 Desember 1987 Pendidikan formal dimulai dari TK Mesen Surakarta, SD Warga Surakarta, SMP Negiri 4 Surakarta, SMA Kristen Widya Wacana Surakarta dan sekarang duduk di kelas XII.